KONSEP DASAR MENULIS DAN LANGKAH-LANGKAH MENULIS
KONSEP DASAR MENULIS DAN LANGKAH-LANGKAH MENULIS
A.
Konsep
Dasar Menulis
Seorang
penulis yang baik, mampu menyampaikan gagasan dengan baik pula. Amatlah pantas,
jika di negara-negara maju pendidikan di sekolahnya, dari tingkat dasar hingga
perguruan tinggi meletakkan kewajiban menulis sebagai sebuah kewajiban yang
harus ditempuh. Oleh karena itu, penulis yang baik perlu memperhatikan beberapa
syarat mutlak yang harus dikuasai di antaranya: (a) kemampuan menggali masalah,
(b) kemampuan menuangkan gagasan ke dalam kalimat dan paragraf, (c) menguasai
teknik penulisan seperti penerapan tanda baca (pungtuasi), dan (d) memiliki
sejumlah kata yang diperlukan.
Menulis
digunakan oleh pelajar untuk mencatat atau merekam, meyakinkan, melaporkan atau
memberitahukan, dan mempengaruhi. Maksud dan tujuan menulis dapat dicapai
dengan baik oleh seseorang yang dapat menyusun gagasan, pikiran, argumen, dan
menuangkannya dengan jelas. Kejelasan ini tergantung pada penalaran,
organisasi, bahasa, ejaan, dan tanda baca yang digunakan.
Wardhana
(2007:33) menyatakan bahwa menulis adalah suatu keahlian dalam menuangkan suatu
ide, gagasan atau gambaran yang ada di dalam pikiran manusia menjadi sebuah
karya tulis yang dapat dibaca dan mudah dimengerti atau dipahami orang lain.
MacArthur (2007:2) menyatakan writing is
a powerful tool for getting thing done and a language skill to convey knowledge
and information. Menulis merupakan keterampilan berbahasa untuk menyampaikan
gagasan dan informasi. Menurut Ariadinata (2009:5) menulis merupakan sarana
paling ampuh untuk menyampaikan gagasan.
Keterampilan menulis, sebagaimana keterampilan berbahasa yang lain, menuntut penguasaan aspek bahasa yang meliputi (a) penguasaan secara aktif sejumlah besar perbendaharaan kata, (b) penguasaan kaidah-kaidah sintaksis secara aktif, (c) kemampuan menemukan gaya (genre) yang paling cocok untuk menyampaikan gagasan, dan (d) tingkat penalaran atau logika yang dimiliki seseorang (Keraf, 2004:35).
Berdasarkan pendapat para ahli di
atas, dapat disimpulkan bahwa menulis tidak sekadar melukiskan simbol-simbol
saja, tetapi mengungkapkan pikiran, masalah, gagasan, dan argumen ke dalam
bahasa tulis berupa susunan kalimat dan paragraf yang utuh. Oleh karena itu,
menulis merupakan sarana komunikasi untuk melakukan negosiasi dan transaksi
dalam bentuk bahasa tulis.
Pandangan
bahwa menulis merupakan bentuk negosiasi dan transaksi itulah yang menuntut
penulis untuk mengetahui tujuan penulisan. Selain itu, seorang penulis harus
memahami konteks situasi dan konteks budaya yang melingkupi kegiatan menulisnya
(Callagham dan Rotheri, 1993:34). Oleh karena itu, dalam kegitan menulis
diperlukan pendekatan dan strategi yang tepat agar tujuan menulis dapat tercapai.
Dalam
pendekatan proses menulis, penulis perlu menguasai pengetahuan struktur bahasa
yang meliputi: (1) pilihan kata; (2) kalimat efektif; dan (3) tata paragraf.
Dapat
dilihat di
https://winarialubis.blogspot.com/2020/11/pilihan-kata-diksi.html
https://winarialubis.blogspot.com/2020/11/kalimat-efektif.html
https://winarialubis.blogspot.com/2020/11/tata-paragraf-bahasa-indonesia.html
B.
Langkah-langkah
dalam Menulis
Menurut
White (1989:7) karangan yang baik dalam prosesnya mempertimbangkan empat hal,
yakni: (1) the appeal target audience
(menentukan target pembaca), (2) a
coherent structure (struktur tulisan yang koheren), (3) a smooth, detailed development (ketuntasan
pengembangan masalah tulisan), dan (4) an
appropriate, well articulated style (gaya tulisan yang menarik). Selain
itu, selama proses menulis, penulis perlu serangkaian aktivitas yang melibatkan
beberapa fase. Fase-fase tersebut yaitu prapenulisan (persiapan), penulisan
(pengembangan isi karangan) dan pascapenulisan (telaah dan revisi atau
editing). Ketiga fase tersebut akan dijabarkan seperti berikut.
1.
Pramenulis
Pramenulis
adalah tahap persiapan untuk menulis. Tompkins dan Hosskison (2002:17)
mengatakan bahwa pramenulis adalah tahap persiapan. Hal-hal yang dilakukan pada
tahap pramenulis adalah: (1) memilih topik; (2) mempertimbangkan tujuan,
bentuk, dan pembaca; serta (3) mengidentifikasi dan menyusun ide-ide. Tahap
pramenulis sangat penting dan menentukan dalam tahap-tahap menulis selanjutnya.
Mahasiswa
menyiapkan diri untuk menulis, mereka berpikir tentang tujuan penulisan.
Misalnya, apakah mahasiswa akan menulis untuk menghibur, menginformasikan
sesuatu, mengklarifikasi, membuktikan atau membujuk. Untuk membantu penulis
merumuskan tujuan tersebut, penulis dapat bertanya pada diri sendiri, Apakah
tujuan saya menulis topik ini? Mengapa saya menulis topik ini? Dalam rangka apa
saya menulis? Pertanyaan-pertanyaan di atas sangat membantu mahasiswa dalam
menentukan tujuan menulis.
Langkah
berikutnya, penulis memperhatikan sasaran tulisan (pembaca). Penulis
merencanakan, apakah menulis untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain.
Penulis memperhatikan, siapa yang akan membaca, bagaimana level pendidikannya,
serta apa kebutuhannya. Selain itu, penulis harus mempertimbangkan bentuk atau
struktur tulisan yang akan ditulis agar pembaca mudah memahami isi tulisan.
Setelah
memilih topik, menentukan tujuan (corak wacana), mempertimbangkan pembaca, maka
langkah selanjutnya adalah menata ide-ide tulisan menjadi runtut. Penulis perlu
menyusun ide-ide untuk menulis dalam bentuk kerangka karangan. Kerangka
karangan digunakan seorang penulis untuk mempersiapkan diri menulis sebagai
fase terakhir prapenulisan.
Kerangka
karangan atau kerangka konsep adalah suatu rencana kerja yang memuat
garis-garis besar karangan yang akan ditulis (Keraf, 2004). Artinya, kerangka
karangan merupakan panduan seseorang dalam menulis ketika mengembangkan suatu
karangan. Sebagai panduan, kerangka karangan dapat membantu penulis untuk
mengumpulkan dan memilih bahan tulisan yang sesuai. Selain itu, kerangka
karangan akan mempermudah pengembangan karangan menjadi terarah, teratur, dan
runtut.
Suparno
(2003:12) menyatakan bahwa kerangka karangan terdiri atas pendahuluan atau
pengantar (berisi mengapa dan untuk apa menulis topik tertentu, serta apa yang
akan disajikan), isi/tubuh (butir-butir penting inti karangan), dan penutup.
Bagian pendahuluan berfungsi untuk mengenalkan sekaligus menggiring pembaca
terhadap pokok tulisan kita. Bagian isi menyajikan bahasan topik atau ide utama
karangan. Bagian akhir karangan berfungsi untuk mengembalikan pembaca pada
ide-ide inti karangan melalui perangkuman atau penekanan ide-ide penting.
2.
Penulisan
Setelah
kerangka karangan tersusun, penulis siap melakukan kegiatan menulis. Kegiatan
menulis adalah mengungkapkan fakta-fakta, gagasan, sikap, pikiran, argumen,
perasaan dengan jelas dan efektif kepada pembaca (Keraf, 2004:34). Penulis
menuangkan butir demi butir ide-idenya ke dalam tulisan. Penulis fokus
menuangkan ide-ide dengan tetap memperhatikan aspek-aspek teknis menulis
seperti struktur, ejaan, dan tanda baca.
Penulis
mengungkapkan ide dan gagasan sekaligus memperhatikan bahasa dalam karangannya.
Bagian isi karangan menyajikan bahasan topik atau ide utama tulisan. Ide utama
di dalam tulisan dapat diperjelas dengan ilustrasi, informasi, bukti, argumen,
dan alasan. Oleh karena itu, penulis akan dituntut pada multiple competence
terhadap bahasa dan gagasannya.
Ketika
proses menulis, masalah yang sering dihadapi penulis adalah munculnya ide-ide
baru. Sebaiknya, penulis tetap melanjutkan karangannya menjadi utuh sesuai
dengan kerangka karangan. Untuk memperbaiki atau menambah ide-ide baru dapat
dilakukan setelah karangan selesai ditulis. Agar tidak lupa, penulis dapat
menyisipkan ide baru itu dengan mencatatnya pada kerangka karangan atau bagian
tulisan yang diinginkan. Penulis dapat menambahkan ide itu sekaligus
memperbaikinya setelah selesai menulis atau pada tahap penyuntingan.
Pada
fase penulisan, setiap butir yang telah direncanakan dikembangkan secara bertahap
dengan memperhatikan jenis informasi yang disajikan, pola pengembangan,
pembahasan, dan sebagainya. Setelah fase ini selesai, penulis membaca kembali,
memeriksa, dan memperbaiki karangannya.
3.
Pascapenulisan
Pascapenulisan
merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan tulisan kasar yang kita hasilkan.
Kegiatan ini meliputi penyuntingan dan merevisi. Tompkins dan Hosskisson
(1995:57) menyatakan bahwa penyuntingan adalah pemeriksaan dan perbaikan unsur
mekanik karangan seperti ejaan, puntuasi, diksi, pengkalimatan, pengalineaan,
gaya bahasa, dan konvensi penulisan lainnya. Adapun revisi lebih mengarah
perbaikan dan pemeriksaan subtansi isi tulisan.
Berdasarkan
pendapat ahli di atas, penyuntingan merupakan kegiatan merevisi atau perbaikan
tulisan. Penyuntingan karangan meliputi perbaikan unsur mekanik dan subtansi
isi. Fokus pada tahap ini adalah melakukan perubahan-perubahan aspek mekanik
karangan. Penulis memperbaiki karangannya pada ejaan dan tanda baca atau
kesalahan bahasa yang lain. Tujuan penyuntingan agar karangan lebih mudah dan
enak dibaca orang lain. Pada tahap penyuntingan, penulis melakukan kegiatan (a)
konsentrasi terhadap karangan, (b) membaca cepat untuk menentukan kesalahan,
dan (c) memperbaiki kesalahan. Mahasiswa akan menjadi penyunting yang baik jika
konsentrasinya terpusat pada karangan. Mahasiswa dapat melakukan penyuntingan
untuk karangan sendiri ataupun karangan milik temannya.
Ketika
menyunting, mahasiswa membaca karangan untuk menentukan dan menandai
kemungkinan bagian-bagian tulisan yang salah. Dosen dapat memberikan contoh
cara menyunting karangan yang baik. Misalnya, dosen membaca salah satu karangan
mahasiswa untuk menandai bagian-bagian karangan yang salah atau kurang lengkap.
Mahasiswa dapat melihat dan meniru contoh proses penyuntingan yang dilakukan
oleh dosen. Kemudian, mahasiswa membaca dan menandai bagianbagian yang salah
untuk mengetahui tipe-tipe kesalahan dalam karangannya.
Setelah
membaca dan menentukan kesalahan dalam karangan, mahasiswa kemudian
memperbaikinya secara individu atau dengan bantuan orang lain. Beberapa
kesalahan mungkin ada yang mudah untuk dikoreksi, ada yang perlu dilihat pada
kamus, atau ada yang perlu bantuan dari dosen secara langsung. Disinilah
pembelajaran tata tulis yang meliputi ejaan, tanda baca, dan penggunaan
struktur atau istilah menjadi bermakna. Mahasiswa benar-benar meresapi
keterangan dan perbaikan dari dosen atau rekannya.
Merevisi
karangan adalah kegiatan yang fokus pada penambahan, pengurangan, penghilangan,
dan penyusunan kembali isi karangan sesuai dengan kebutuhan pembaca.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah (1) membaca ulang
seluruh draf, (2) sharing atau berbagi pengalaman tentang draf kasar karangan
dengan teman, dan (3) mengubah atau merevisi tulisan dengan memperhatikan
reaksi, komentar atau masukan dari teman atau dosen. Setelah itu, penulis
membaca kembali tulisan kasarnya. Ketika membaca ulang inilah, penulis membuat
perubahan dengan menambah, mengurangi, menghilangkan atau memindahkan
bagian-bagian tertentu dalam draf karangan. Penulis dapat menandai
bagian-bagian yang akan diubah dengan memberinya tanda-tanda tertentu atau
menggarisbawahi.
Proses
penyuntingan dapat dilakukan dalam pembelajaran kelompok di kelas. Mahasiswa
berdiskusi dan tukar pikiran tentang kesalahan-kesalahan yang sering terjadi
dalam karangan. Kelompok-kelompok menulis ini sangat penting agar dosen dan
mahasiswa melakukan sharing tentang cara-cara untuk menyunting. Kelompok ini
dapat dibentuk secara spontan atau sudah dibentuk sebelum perkulihan. Adapun
kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini adalah (a) mahasiswa membaca karangannya,
(b) mahasiswa lain memberi komentar, (c) mahasiswa membuat pertanyaan, (d)
mahasiswa lain memberikan saran, dan (e) penulis merencanakan untuk merevisi.
Dalam kegiatan ini, dosen bisa membantu mahasiswa dengan berkeliling dan
memonitor setiap kelompok. Kadang-kadang mahasiswa mendapatkan kesulitan yang
tidak dapat dipecahkan dalam kelompok sehingga memerlukan bantuan dosen.
Berdasarkan
pemaparan di atas, maka kegiatan pascamenulis (penyuntingan) dan perbaikan
karangan dapat dilakukan dengan langkah-langkah (1) membaca keseluruhan
karangan, (2) menandai hal-hal yang perlu diperbaiki, atau memberikan catatan
bila ada hal-hal yang harus diganti, ditambahkan atau disempurnakan, (3)
melakukan perbaikan sesuai dengan temuan saat penyuntingan.
Menurut
Tompkins & Hoskisson (1995) tahap-tahap yang terdapat dalam proses menulis
itu bukan merupakan kegiatan yang linier. Pada dasarnya proses menulis bersifat
nonlinier, merupakan suatu putaran yang berulang. Ini berarti setelah penulis
merevisi tulisannya mungkin ia melihat ke tahap sebelumnya. Misalnya ke tahap
pramenulis dengan maksud melihat kesesuaian isi tulisan dengan tujuan menulis.
Dalam
pelaksanaannya, mahasiswa mungkin berada pada tahap menulis yang tidak sama.
Hal ini karena karakteristik setiap mahasiswa berbeda, ada yang cepat berpikir,
ada yang lambat, ada yang selalu meminta bantuan orang lain, ada yang mandiri,
dan sebagainya. Dosen sebagai kolabolator mahasiswa, harus mampu mengakomodasi
setiap karakteristik mahasiswa. Dosen dapat menolong perkembangan keterampilan
menulis setiap mahasiswa semaksimal mungkin. Oleh karena itu, dosen harus
menciptakan inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan menulis mahasiwa
sekaligus memfasilitasi karakter dan pengetahuan mahasiswa yang berbeda
tersebut.
Inovasi
pembelajaran menulis yang telah dilakukan, terdapat banyak kegiatan.
Keterlibatan mahasiswa dalam setiap kegiatan itu sangat berharga dan berguna
untuk perkembangan keterampilan menulis. Mahasiswa benar-benar belajar
bagaimana cara menulis. Setiap ada kesulitan akan selalu berusaha dipecahkan
dengan bantuan orang lain. Hal Ini berarti bahwa dosen dituntut memiliki
kemampuan pengelolaan perkuliahan menulis dengan baik. Dosen bukanlah pemimpin
kelas, tetapi merupakan kolabolator atau teman para mahasiswa dalam memecahkan
berbagai persoalan yang muncul ketika proses menulis esai.
Menurut Tompkins & Hoskisson (1991:212) fokus dalam proses menulis terletak pada apa yang dialami, dipikirkan, dan dilakukan dalam proses menulis. Hairstone (1997:31) membagi proses menulis menjadi empat tahap, yaitu tahap: (1) persiapan (preparation stage); (2) inkubasi (incubation stage); (3) pencerahan (illumination and exucution stage); dan (4) verifikasi (verification stage). Berikut ini disajikan tabel tentang langkah-langkah kunci menulis dengan pendekatan proses.
|
TAHAPAN
PROSES MENULIS |
LANGKAH-LANGKAH
DALAM PENDEKATAN PROSES |
|
Langkah 1: Prewriting |
Ø
Memilih
topik Ø
Menentukan
tujuan menulis Ø
Mengidentifikasi
genre tulisan Ø
Mengingat
ide/gagasan untuk ide tulisan |
|
Langkah 2: Drafting |
Ø
Mengorganisasi
ide dan menentukan tesis Ø
Menulis
sesuai dengan draf Ø Mengembangkan
ide tulisan, mengoreksi mekanik bahasa |
|
Langkah 3: Revising |
Ø
Membaca
kembali tulisan sesuai dengan konsep Ø
Mendiskusikan
tulisan dalam kelompok Ø
Membuat
perubahan isi berdasarkan hasil diskusi Ø
Konsultasikan
dengan guru/dosen |
|
Langkah 4: Editing |
Ø
Membaca
dan merevisi sesuai dengan draf Ø
Mengidentifikasi
kesalahan ejaan dan tanda baca Ø
Konsultasikan
dengan pengajar |
|
Langkah 5: Publishing |
Ø
Mencetak
tulisan yang sudah diperbaiki Ø
Mendiskusikan
dan meminta masukan dari audien. |
Tompkins
dan Hoskisson (1991:211) menyatakan the fokus in the writing process is on what
student think and do as they write and the five stage are prewriting, drafting,
revising, editing, and publishing. Intinya bahwa pendekatan proses dalam
menulis terdiri atas lima tahap yaitu: (1) pramenulis; (2) membuat draft; (3)
merevisi; (4) menyunting; dan (5) mempublikasikan.
Tahapan-tahapan
menulis menggunakan pendekatan proses dijabarkan seperti berikut.
a. Pramenulis
adalah tahap persiapan menulis untuk memperoleh dan menata ide, gagasan, dan
masalah yang berkaitan dengan topik karangan. Kegiatan yang dilakukan penulis
yakni memilih topik, mempertimbangkan tujuan, bentuk, sasaran pembaca, dan
memperoleh serta menyusun ideide. Melalui kegiatan pramenulis, mahasiswa
berbicara, menggambar, membaca, dan bahkan menulis untuk mengembangkan
informasi yang diperlukan.
b. Menyusun
draf adalah menata ide-ide tulisan agar menjadi runtut. Penulis perlu menyusun
ide-ide untuk menulis dalam bentuk kerangka karangan. Kerangka karangan
tersebut, digunakan penulis untuk mempersiapkan diri ketika menulis.
c. Menyunting
adalah kegiatan merevisi atau perbaikan tulisan. Penyuntingan di sini meliputi
perbaikan unsur mekanik dan isi. Penyuntingan sifatnya lebih kompleks karena
berkaitan dengan perbaikan secara tekstual dan kontekstual.
d. Merevisi
adalah perbaikan karangan yang dilakukan oleh penulis atau orang lain untuk
memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Merevisi lebih fokus pada
penambahan, pengurangan, penghilangan, dan penyusunan kembali isi karangan
sesuai dengan kebutuhan pembaca.
e. Publikasi
adalah menginformasikan tulisan untuk memberikan pesan atau informasi kepada
orang lain. Media publikasi dapat berupa media cetak maupun media elektronik
tergantung sasaran pembacanya. Karangan mahasiswa yang sudah direvisi dapat
dipublikasikan dengan meng-upload di blog atau di kirim ke media cetak/koran.
DAFTAR PUSTAKA
Keraf,
Gorys. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia
Suparno. 2003. Bagaimana
Menulis Lintas Kurikulum. Bandung: Citra Aditya Bakti
Tarigan, Henry Guntur. 1982. Menulis
sebagai Salah Satu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Tompskins, G.E. & Hoskisson, K. 1991. Language
Arts, Content and Teaching Strategies 3rd Edition. New York: Mc-Millan
College Publishing Company.
Tompskins,
G.E. & Hoskisson, K. 1995. Language Arts, Content and Teaching
Strategies 3rd Edition. Englewood Cliffs, New
Jersey: Merril
Wardhana,
Wisnu Arya. 2007.Menyingkap Rahasia
Menjadi Penulis.Yogyakarta: Pustaka Pelajar
https://winarialubis.blogspot.com/2020/11/pilihan-kata-diksi.html
https://winarialubis.blogspot.com/2020/11/kalimat-efektif.html
https://winarialubis.blogspot.com/2020/11/tata-paragraf-bahasa-indonesia.html
Esai
1.
Apa fungsi dan tujuan menulis?
2.
Coba Anda jelaskan bagaimana konsep dasar
menulis.
3.
Dalam pendekatan proses menulis, penulis
perlu menguasai pengetahuan struktur bahasa yang meliputi: (1) pilihan kata;
(2) kalimat efektif; dan (3) tata paragraf. Mengapa? Jelaskan!
4.
Konsep dasar apa saja yang perlu dipersiapkan
sebelum melakukan prapenulisan?
5.
Dalam tahapan menulis, terdapat proses
menyunting dan merevisi tulisan. Jelaskan perbedaan menyunting dan merevisi
tulisan!
6.
Apa tujuan dilakukan revisi dan suntingan
dalam tulisan?

Komentar
Posting Komentar