ETIKA MENULIS AKADEMIK
ETIKA MENULIS AKADEMIK
A.
Pemahaman
Penulisan
akademik adalah jenis penulisan yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu yang
diterima dalam komunitas akademik. Kaidah inilah yang membedakan tulisan
akademik dengan coretan di blog, note di Facebook atau artikel di koran dan
majalah. Swales dan Feak (2009) menyatakan bahwa tulisan akademik merupakan
produk dari banyak pertimbangan, seperti pembaca, tujuan, organisasi, gaya,
alur, dan presentasi. Selain itu, tulisan akademik harus memiliki argumen
sebagai roh yang mengilhami seluruh kesatuan tulisan.
Kemampuan
menulis sebuah karya tulis akademik merupakan tuntutan yang harus dipenuhi baik
oleh setiap mahasiswa maupun dosen. Kemampuan tersebut tidak semata-mata
berkaitan dengan prosedur dan teknik penulisan sebuah karya akademik, tetapi
juga dengan tuntutan substansial yang melekat padanya. Jawaban yang tuntas atas
kedua tuntutan tersebut sangat menentukan kualitas sebuah karya tulis akademik.
Menguasai
keterampilan menulis akademik sangat penting. Untuk mencapai tujuan ini,
penting memiliki pemahaman yang jelas tentang konsep "etika menulis
akademik" dan menyadari pentingnya dalam kegiatan akademik. Dalam artikel
ini, kita akan menjelajahi topik ini untuk memahami bagaimana mematuhi
prinsip-prinsip etika dapat meningkatkan kualitas publikasi akademik dan
menjamin kredibilitas karya kita.
Etika akademik mencakup seperangkat norma, nilai, dan aturan yang diakui
dan diikuti dalam komunitas ilmiah. Etika ini mengatur perilaku peneliti pada
semua tahap penelitian, termasuk perencanaan, pelaksanaan, dan presentasi.
Pentingnya etika akademik adalah mendorong kepercayaan, objektivitas, dan
kejujuran intelektual.
Mematuhi prinsip-prinsip
etika menulis akademik memiliki dampak signifikan pada pencapaian ilmiah dan
berkontribusi pada membangun kepercayaan dan pemahaman dalam komunitas
akademik. Norma-norma tersebut adalah beberapa dari banyak aspek etika menulis
akademik yang perlu dipertimbangkan oleh peneliti saat menulis karya ilmiah.
1. Integritas
Integritas adalah salah
satu prinsip fundamental dari etika menulis akademik, yang menyatakan bahwa
peneliti harus jujur tentang sumber, data, hasil, dan kesimpulan penelitian
mereka. Pelanggaran terhadap prinsip ini, seperti penggunaan plagiarisme,
pemalsuan data, ketidakakuratan, atau menyembunyikan informasi, merusak
kredibilitas komunitas akademik.
2. Aturan
sitasi
Selain itu, etika menulis
akademik melibatkan mematuhi aturan sitasi, sitasi diri sendiri, dan sitasi
sumber. Peneliti harus secara akurat mengakui penelitian sebelumnya dan menggunakan
sitasi yang tepat untuk memberikan atribusi terhadap ide atau hasil. Hal ini
tidak hanya menunjukkan penghargaan terhadap karya peneliti lain tetapi juga
membantu menghindari plagiarisme.
3. Objektivitas
dan ketidakberpihakan
Objektivitas dan ketidakberpihakan
juga merupakan bagian integral dari etika akademik. Peneliti harus berusaha
menganalisis dan menyajikan hasil yang objektif, menahan diri dari
menyembunyikan atau memutarbalikkan fakta yang dapat mengarah pada interpretasi
yang bias. Ketidakberpihakan memerlukan pendekatan netral, bebas dari keyakinan
pribadi atau konflik kepentingan yang dapat mempengaruhi jalannya penelitian
atau analisis hasil. Peneliti harus menghindari konflik kepentingan yang dapat
memengaruhi objektivitas temuan atau penilaian mereka. Pada saat yang sama,
mereka harus mematuhi prinsip validitas ilmiah dan tetap terbuka untuk merevisi
pandangan mereka jika ada bukti atau argumen baru yang membenarkan hal
tersebut.
4. Privasi
dan kerahasiaan
Terakhir, kita perlu
mencatat bahwa etika menulis akademik juga melibatkan penghormatan terhadap
kerahasiaan dan privasi. Peneliti harus menghormati hak-hak dan privasi peserta
penelitian, menggunakan data hanya dengan izin yang tepat dan dengan cara yang
etis.
B. Karakter
Tulisan Akademik
1. Mempertimbangkan
Pembaca
Tulisan
yang baik adalah tulisan yang dibuat dengan mempertimbangkan orang yang akan
menjadi pembaca. Kesadaran ini harus tertanam, bahkan sebelum proses penulisan
dilakukan. Tentunya, pembaca tulisan akademik adalah komunitas akademik. Bagi
mahasiswa, pembaca karya akademiknya adalah dosen, mahasiswa yang lain, atau
orang lain dalam komunitas akademik. Semua orang yang membaca tulisan akademik
mahasiswa adalah orang-orang yang telah mengetahui topik tulisan itu. Kesadaran
ini membawa konsekuensi serius karena tulisan yang disajikan bukan dalam
kerangka “mengajari” dosen tentang sebuah topik, tetapi menunjukkan bahwa
mahasiswa mengerti terhadap isu yang menjadi fokus perhatian tulisan. Dalam
tataran yang lebih teknis, kesadaran terhadap pembaca ini muncul di antaranya
melalui pemilihan kata, struktur kalimat, dan paragraf.
Dalam
hal ini, penulis harus menghindari sebagai berikut.
a.
Tulisan yang terlalu sederhana; Tulisan terlalu sederhana dapat
dilihat dari struktur kalimat, paragraf, dan keseluruhan bangunan tulisan.
Selain itu, kesederhanaan juga dapat dilihat dari alur tulisan yang menjelaskan
sesuatu yang sangat umum atau menjadi rahasia umum.
b.
Tulisan berputar-putar, rumit, sulit
dipahami, dan hanya penulis serta Tuhan yang tahu maksud tulisan itu. Artinya walaupun mahasiswa telah
sadar akan pembaca tulisan akademiknya, hal itu harus diwujudkan melalui
pengorganisasian tulisan yang baik dan mudah dipahami
2. Memiliki
Kejelasan akan Tujuan Tulisan
Setiap tulisan akademik
harus memiliki tujuan yang jelas, yang tercermin dalam bentuk dan gaya
penulisannya. Kane (2000) membagi tulisan berdasarkan tujuannya menjadi tiga
yaitu, to inform, to persuade, dan to entertain. Tulisan akademik dalam
kajian sosial dan politik berdasarkan dua tujuan yang pertama, yaitu memberikan
informasi dan membujuk. Jenis ketiga adalah tulisan yang bertujuan untuk
menghibur. Jenis ini dapat dengan mudah dijumpai dalam novel-novel dan fiksi.
Sayangnya, seringkali ditemukan tulisan yang bertujuan untuk memberikan informasi
dan membujuk kehilangan fokus sehingga mirip fiksi.
Tulisan yang memiliki
tujuan untuk menyampaikan informasi dibagi lagi menjadi tiga, yang kemudian
disebut dengan eksposisi, deksripsi, dan narasi (Kane, 2000). Tulisan eksposisi
di antaranya dapat menjelaskan posisi pemikiran penulis, menjelaskan bagaimana
sesuatu bekerja (misalnya, operasi intelijen atau bekerjanya suatu mesin),
teori (contohnya, teori Elit), dan isu kontroversial. Tulisan deskripsi
berhubungan dengan persepsi, terutama persepsi visual. Tulisan narasi
berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang saling berhubungan dalam kaitan
waktu. Penulis naratif idealnya mampu menjelaskan tiap peristiwa yang terjadi
dan mencari kaitan antara peristiwa-peristiwa tersebut.
Tulisan persuasif bertujuan
untuk membujuk pembaca agar berpihak kepada pilihan penulis. Untuk dapat
meyakinkan pembaca, penulis harus dapat menyajikan fakta dan bukti yang
mendukung argumen yang disampaikannya. Dalam tulisan akademik, seluruh bukti,
fakta, dan opini ini harus memiliki dasar pembenaran akademik dan bukan
berdasar asumsi penulis semata-mata.
Salah satu hal penting
yang perlu diperhatikan adalah bahwa tujuan penulisan ini harus dinyatakan
dalam bahasa yang eksplisit atau secara tersurat dan tegas, bukan secara
implisit atau samar-samar. Letak ekspresi tujuan ini biasanya berada di bagian
awal tulisan akademik.
Tulisan akademik perlu
lebih bergaya anak panah daripada bergaya obat nyamuk bakar. Masalah klasik
penulisan akademik di Indonesia adalah gaya penulisan model “obat nyamuk”,
bukan model “anak panah”. Dalam model obat nyamuk, untuk dapat sampai ke inti
penulisan yang dibayangkan yang berada di tengah titik obat nyamuk bakar,
prosesnya harus melalui jalan yang melingkar-lingkar. Pada model anak panah,
tujuan tulisan diekspresikan secara jelas dan tegas, langsung ke inti tulisan
di tengah sasaran panah.
3. Memiliki
Argumen yang Meyakinkan
Salah satu poin vital
dalam tulisan akademik adalah argumen. Argumen pada intinya adalah sebuah
presentasi logis secara formal tentang suatu pendapat, klaim, posisi, atau cara
pandang tertentu yang berkaitan dengan suatu isu yang menjadi perhatian
komunitas akademik tertentu. Apabila tujuan penulisan adalah rohnya, argumen
adalah manifestasi riil dari tujuan tersebut. Istilah argumen juga sering
digunakan secara bergantian dengan klaim atau hipotesis. Argumen, klaim, dan
hipotesis ini harus didukung oleh bukti-bukti pendukung lain.
Dalam hal ini, salah satu
hal penting untuk meyakinkan pembaca adalah dengan memberikan bukti-bukti yang
dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Pada intinya, kekuatan sebuah
argumen dipengaruhi oleh dua hal, yaitu: logika diskusi yang dibangun dan
kualitas bukti pendukung.
Membangun argumentasi dalam tulisan tidak terlepas dari seksi tinjauan awal topik yang dibahas. Membangun argumentasi dapat dilakukan dengan dua tipe yaitu argumentasi yang selaras dan argumentasi yang kontradiktif. Membangun argumentasi yang selaras dilakukan dengan mengetengahkan fakta, referensi, dan hasil penelitian terdahulu. Mendukung di sini tidak diartikan bahwa ide topik kemudian sama dengan ide-ide terdahulu, namun potongan-potongan atas tinjauan awal itu jika digabungkan dan dibentuk dapat menyokong secara kuat argumentasi ide penulis
Mengikuti argumen banyak ahli pembangunan (a.l. Horowitz,1972; Reutlinger dan Selowsky, 1976; Islam, 1985; Korten,1984 dan 1986; Weisband, 1989; Adam, 1990; Jazairy et al., 1992; dan Lipton, 1992), argumen pokok penyajian ini dibangun atas beberapa tesis berikut. Pertama, bahwa fenomena kemiskinan bukan semata-mata merupakan konsekuensi dari rendahnya produk nasional bruto dan/atau tingkat pertumbuhan ekonomi. Sekalipun terdapat kaitan yang kuat antara tingkat produksi masyarakat dan kemiskinan, tingkat kemiskinan lebih banyak berkaitan dengan struktur ekonomi suatu masyarakat. Kedua, bahwa kebijakankebijakan dan program-program pembangunan yang secara khusus diorientasikan pada lapisan penduduk miskin perlu dirancang dan dilaksanakan dengan sistematis melalui integrasi ekonomi mereka ke dalam ekonomi nasional apabila kita benar-benar menghendaki pemecahan lebih mendasar atas masalah kemiskinan yang kita hadapi saat ini. Ketiga, semuanya itu menuntut aplikasi suatu paradigma dan strategi pembangunan baru yang lebih bersifat partisipatoris, berwawasan lingkungan, dan berorientasi pada upaya untuk secara langsung menanggulangi masalah kemiskinan. Keempat, bahwa keberhasilan program-program antikemiskinan harus didukung oleh sebuah gerakan sosial yang tidak hanya mensyaratkan penyelenggaraan program-program yang kuat dan dana yang melimpah, tetapi juga dukungan banyak hal yang lain: mulai dari mencerahkan (enlightning), kepemimpinan karismatis yang kuat, dan jaringan organisasi yang rapih, sampai dengan pemilihan dan penggunaan lambang-lambang yang memikat (Nasikun, 2002: 3--4)
Bagaimana Anda akan
menjelaskan argumentasi tersebut? Orientasikan pembaca kepada hal yang
diikutinya.
Contoh:
Di atas
kesadaran akan semua itulah, penyajian tulisan ini ingin disampaikan. Tujuan
utamanya adalah sebagai media auto-critics untuk mendorong pembentukan
pemahaman dan wawasan yang lebih kritis mengenai karakter dari problematika
kemiskinan, yang pada gilirannya diperlukan sebagai landasan bagi perumusan
konseptualisasi dan operasi gerakan penanggulangan kemiskinan yang lebih
dipertanggungjawabkan. Meskipun demikian, para pembaca yang berharap akan menemukan
pemaparan sebuah alternatif baru strategi pemecahan masalah kemiskinan jelas
akan mengalami kekecewaan yang berat. Kendati tulisan ini berkesan ingin
menyajikan sebuah kritik dan koreksi radikal terhadap strategi penanggulangan
kemiskinan yang selama ini dilakukan oleh pemerintah, ia sama sekali tidak
memiliki kapasitas untuk menawarkan sebuah pemikiran yang benarbenar baru,
melainkan lebih dimaksudkan sebagai sebuah pemikiran awal bagi penemuan dan
perumusan sebuah strategi penanggulangan kemiskinan di dalam perspektif suatu
gerakan sosial (Nasikun, 2002: 3).
Argumentasi kontradiktif
dibangun dengan diawali pemaparan temuan-temuan awal dari topik yang akan
ditentang penulis, diikuti dengan fakta, referensi, dan hasil penelitian
mengenai hal-hal yang kontradiktif dengan temuantemuan sebelumnya. Setelah itu,
penulis menunjukkan posisinya untuk tidak sependapat dengan pendapat dan
pandangan yang telah ada, dengan menunjukkan celah yang dimungkinkan dimasuki
untuk mengembangkan argumentasinya. Sebagai contoh, Hiariej (2003: 261-262)
berbicara tentang teori negara marxis.
Contoh:
Tulisan ini bertujuan menelusuri kembali
pandangan-pandangan Marx dan Engels tentang negara. Sebagian besar tulisan yang
membahas isu ini cenderung mengedepankan kontradiksi dalam pandangan kedua
pemikir tersebut. Kontradiksi yang terpenting adalah perbedaan antara cara
pandang instrumentalis yang menempatkan negara sebagai alat kepentingan kelas
sosial dominan dan perpektif strukturalis yang menganggap negara sebagai
lembaga yang memiliki otonomi relatif. Tampaknya, kontradiksi ini bersumber
dari beberapa perubahan, terutama, dalam perkembangan pemikiran Marx. Beberapa
penulis di antaranya merekam perubahan-perubahan tersebut dengan menegaskan
perbedaan-perbedaan antara Marx muda dan Marx tua, Marx humanis dan Marx
komunis, atau antara Marx yang ilmuwan dan Marx yang filosofis (lihat misalnya
Althusser, 1969; Berlin, 1978; Callinicos, 1983). Di lain pihak tulisan ini
menekankan beberapa hal. Pertama, teori negara Marx dan Engels harus dilihat
dengan dua cara: sebagai jawaban terhadap dominasi teori negara liberal dan
Hegelian di Jerman dan Eropa pada waktu itu dan sebagai konsekuensi dari
bangunan filsafat historical materialism yang mereka kembangkan. Kedua, teori
Marx dan Engels tentang negara bisa dikelompokkan menjadi empat macam cara
pandang: institusionalis, strukturalis, instrumentalis, dan otonomi relatif.
Meski ada perbedaan-perbedaan ini, teori yang dikembangkan Marx dan Engels
selalu berkaitan dengan dua faktor, yakni negara merupakan tertib sosial yang
merepresentasikan kepentingan kelas sosial tertentu dan menjamin kelancaran
pembangunan ekonomi kapitalistik.
Argumentasi dengan logika deduktif merupakan argumentasi yang dimulai dengan menampilkan hal-hal yang bersifat umum dan kemudian mengarah pada hal-hal yang lebih khusus. Ia dimulai dengan mengetengahkan argumentasi utama dan kemudian menurunkan uraian yang berupa fakta, referensi, dan analisis untuk memperjelasnya. Argumentasi dengan logika induktif dimulai dengan memaparkan bukti-bukti yang mendukung argumentasi secara lengkap, sebelum diakhiri dengan ide besar argumentasinya.
4. Dilengkapi
Bukti-bukti Pendukung
Bukti pendukung merupakan ”darah”
dari suatu tulisan. Salah satu pembeda argumen akademik dari tipe argumen lain
adalah cara argumen tersebut diartikulasikan dan didukung bukti yang
meyakinkan. Bukti ini bisa berupa data, informasi, hasil penelitian atau opini
tentang informasi tertentu. Bukti pendukung bagi argumen akademik harus
memenuhi empat kriteria, yaitu relevan, reliabel, representatif, dan sufficient.
Pada dasarnya, bukti yang
mendukung argumen bisa didapatkan dari penelitian, survei, interview, atau tulisan sebelumnya tentang topik yang dibahas.
Bukti tersebut diwujudkan dalam tabel, kutipan, atau bentuk-bentuk lainnya. Salah
satu fungsi penting lain dari bukti ini adalah semangat pengetahuan yang tidak
dimulai dari nol, tetapi berangkat dari karya sebelumnya.
5. Memiliki
Organisasi Tulisan yang Baik
Tujuan organisasi tulisan
adalah penulis perlu memberitahukan kepada pembaca tentang tulisannya agar
dapat diketahui garis besar isi dari pendahuluan, isi atau pembahasan, sampai
kesimpulan dan penutup. Pembaca dapat lebih mudah mengikuti alur dan logika
penulis atau menyelaraskannya dengan pemikiran penulis. Pembaca juga dapat
menemukan secara cepat hal-hal yang ingin dicarinya dari tulisan tersebut tanpa
harus membacanya secara keseluruhan. Hal ini hanya dipakai oleh pembaca untuk
memastikan bahwa di dalam tulisan tersebut terdapat isi atau pembahasan yang
diinginkan sebelum membaca secara keseluruhan. Penulis juga dapat memperoleh
manfaat dari seksi ini sebagai pegangan bagi isi dari tiap-tiap bab dan sub-bab
yang ditulisnya.
Pada dasarnya terdapat
tiga bagian penting pada organisasi tulisan, yaitu: pendahuluan, isi, dan
kesimpulan atau penutup. Ketiga bagian ini ada dalam semua karya akademik,
termasuk untuk karya akademik bidang sosial dan politik. Hal yang membedakan
organisasi tulisan akademik tertentu hanyalah panjang dan pendeknya. Bagian
pendahuluan dalam critical review tentu
lebih pendek daripada skripsi atau artikel jurnal. Namun, dalam keseluruhan
naskah lengkap, proporsinya relatif sama.
Bagian pengantar memberi overview sangat singkat tentang topik
yang dipilih, argumen, dan hasil yang didapatkan dalam penelitian. Apabila
masih memiliki cukup ruang untuk menulis (mengingat beberapa tulisan dibatasi
oleh jumlah kata), sistematika penulisan penting untuk dinyatakan. Artinya,
sejak awal, penulis sudah memberikan isi singkat dari seluruh tulisannya. Dalam
buku yang bagus, pembaca cukup membaca bagian pendahuluan dan sudah memiliki
gambaran tentang keseluruhan isi buku. Pembaca dapat meneruskan ke detail isi
tiap bagian yang tersaji dalam pengantar pada bagian isi bab.
Bagian isi merupakan inti
tulisan yang biasanya terbagi dalam beberapa bagian lainnya. Dalam skripsi, isi
mewujud menjadi bab dan dalam makalah terlihat menjadi beberapa bagian. Perlu
diperhatikan bahwa alasan penyusunan bab atau bagian dalam tulisan ilmiah
adalah argumen dan tidak berdasarkan atas kebiasaan.
Bagian kesimpulan bukan
menulis ulang apa yang sudah tertulis di bagian sebelumnya. Kesimpulan berisi
ringkasan terhadap temuan-temuan dalam tulisan sebelumnya dan dapat berisi forecasting terkait tema yang dipilih.
Tulisan adalah seluruh
rangkaian ide yang menyatu satu dengan lainnya. Seluruh tulisan membangun
sebuah argumen besar yang diturunkan dalam argumen-argumen kecil yang
dijabarkan ke dalam bab-bab. Setiap bab memiliki satu isu atau argumen yang
diangkat. Bab terdiri dari beberapa paragraf yang setiap paragrafnya terdiri
dari satu inti kalimat dan beberapa kalimat pendukung. Setiap paragraf terdiri
dari beberapa kalimat yang saling mendukung. Pada intinya, seluruh tulisan
adalah sebuah bangunan dengan setiap komponen yang saling mendukung dan menguatkan
Apabila seluruh
karakteristik tulisan akademik tersebut dipatuhi, mahasiswa akan mampu menjadi
akademisi yang andal. Seringkali, sebuah tulisan akademik memiliki kekuatan di
satu hal, tetapi alpa di hal-hal penting lainnya. Sebuah tulisan yang memiliki
argumen dan bukti pendukung yang sangat baik didukung dengan organisasi tulisan
yang mampu menyajikan ide dan bukti tersebut agar mudah dipahami, begitu juga
sebaliknya. Kelemahan di satu hal akan membuat sebuah tulisan menjadi cacat.
Kesempurnaan sebuah tulisan akademik terletak dari kuatnya masing-masing
karakteristik tersebut tercermin dalam tulisan.
1. Jelaskan norma-norma (etika) yang harus dipenuhi dalam menulis akademik?
2. Pada dasarnya terdapat tiga bagian penting pada organisasi tulisan, yaitu: pendahuluan, isi, dan kesimpulan atau penutup. Coba Anda jelaskan maksud dari ketiga bagian tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Hiariej,
Eric. 2003. “Teori Negara Marxis”, dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Vol.
7, No. 2, November 2003, hlm. 261-262
Kane, S. Thomas. 2000. The Oxford Essential Guide to Writing.
New York: Berkley Books
Nasikun.
2002. “Penanggulangan Kemiskinan: Kebijakan dalam Perspektif Gerakan Sosial”,
dalam Jurnal Sosial dan Ilmu Politik. Vol. 6, No. 1, Juli 2002, hlm. 3-4
Swales, John, dan Christian Feak. 2009. Academic Writing for nd Graduate Students: Essential Tasks and Skills. 2 edition. Michigan: the University of Michigan.

Komentar
Posting Komentar